
Pada satu kesempatan saya bertemu dengan CEO BUMN China. Dia tentu juga elite partai. Saya sengaja undang dia makan malam. Dia keliatan tersenyum kepada manager restoran yang datang ke ruang makan kami. Saya berprasangka, pejabat ini suka wanita muda yang cantik.
“ B, serunya. “ Ahli keuangan Harvard tidak akan bisa memahami soal disparitas harga beras di China. Nyatanya China bisa established dalam kebijakan beras tanpa merugikan pasar dan tentu menguntungkan petani. “ Katanya saat mulai makan. Saya senang ketemunya. Salah satu yang ingin saya dengar sudut pandangnya tentang pertanian di China. Dan dia mengawali dari price policy pemerintah. Memang harga beras di China antar wilayah, kota berbeda harganya. Harga beras di Gungxi beda hampir 50% lebih murah dari harga beras di Zhenhen yang mencapai 8,7 Yuan atau Rp. 22.000 per kg. Tapi di Guangxi sama dengan di Indonesia yaitu Rp 11.000 atau 5 Yuan.
“ Kami mengelola inflasi secara adil. Kota dengan tingkat PDB regional tinggi ya wajar kalau harga beras tinggi dan petani menikmati keuntungan berlebih. Tetapi di wilayah yang PDB rendah, pemerintah intervensi lewat pembelian di centra produksi beras dan menjualnya ke pada rakyat dengan harga subsidi. Jadi yang kami subsidi konsumen, sementara petani dapatkan subsidi produksi. “ Lanjutnya.
“ Fair enough. Antara kapitalisme pasar dan sosialisme produksi terjalin apik lewat kepemimpinan pasar oleh pemerintah. “ Kata saya tersenyum. “ Tentu tidaklah proses yang mudah bisa sampai seperti itu “ Lanjut saya.
“ Sejak era dinasti Qing dan Republik Tiongkok di era rezim Kuomintang, pertanian di China dikendalikan oleh tuan tanah dengan rakyat hanya sebagai pekerja atau penyewa lahan. “ Katanya mengawali sambil menikmati makan malam. Saya siap menyimak. Ya hampir sama seperti Indonesia sekarang. Dimana Petani menjadi second class di negerinya sendiri. Terjajah oleh pedagang yang berlindung dibalik politik populis penguasa. Produktifitas rendah karena masih dikelola secara tradisional dan retorika kaum feudal.
Tahun 1949, lanjutnya. Rezim Kuomintang tumbang oleh kaum komunis. Mao Zedong sebagai ketua Partai Komunis Chna tanpil ke tampuk kekuasaan China. Karena PKC adalah partai petani dan buruh, maka Mao focus membangun pertanian sebagai landasan China melompat ke masa depan. Reformasi agraria dilaksanakan dengan merampas lahan yang dikuasai tuan tanah untuk dibagikan kepada rakyat. Petani tidak lagi menyewa kepada tuan Tanah tetapi menyewa kepada pemerintah. Sistem pertanian kolektif lewat koperasi/ komunal diperkenalkan secara luas. Namun sistem koperasi ini gagal total. Karena sifatnya topdown. Katanya.
Dia berhenti sejenak bicara. Seakan menarik napas. Mengingat masa lalu yang kelam. Sama seperti dikita era Soeharto dan sampai sekarang. Sumber korupsi bagi elite dan korporasi.
“ Kegagalan ini membuat rakyat China semakin miskin diatas pertumbuhan ekonomi dan para elite yang terkontaminasi budaya feodal. Di tambah lagi distribusi tidak efisien akibat logistik yang buruk. Itu sebab revolusi kebudayaan terjadi. Di tengah revolusi kebudayaan itu proses pembanguna phisik berlanjut terus “Katanya. “ Sejak tahun 1966 sampai tahun 1976 Infrastruktur pertanian seperti irigasi, pabrik pestisida, pupuk dan alat pertanian dibangun di setiap provinsi. Mao juga bangun industry hulu seperti pabrik kimia dan baja. Wajib belajar membaca dan menulis berlaku bagi siapa saja.
Saya menyimak.
Setelah Mao wafat dan digantikan oleh Deng Xiaoping, Reformasi dan Liberalisasi Pertanian diterapkan. Sistem kolektif dan koperasi dihapus. Diganti dengan tanggung jawab rumah tangga. Pemerintah tidak lagi mengorganize langsung koperasi, kecuali memastikan tata niaga berpihak kepada petani. Artinya petani diberi kebebasan dalam mengorganisir dirinya sendiri, berproduksi dan menjual. Apa hasilnya?. Produktivitas meningkat. Tahun 1990 swasembada pangan tercapai.
Dari tahun 1990, China mulai membangun pertanian berbasis Industri. Riset pertanian diterapkan secara terprogram untuk menemukan bibit unggul dan tekhnologi tanam yang bisa menghasilkan produk pertanian dalam skala industry. Bendungan dan irigasi diperluas. Pabrik mesin pertanian dibangun secara luas untuk memastikan harganya murah dan terjangkau. Tidak mengenal subsidi langsung tetapi lewat produksi pada industry pupuk, pestisisa dan mesin pertanian. Sehingga petani membeli dengan harga murah.
Pada waktu bersamaan China mulai membangun industry subsititusi impor untuk menopang proses industrialisasi secara luas. Walau karena itu terjadi urbanisasi. Banyak petani pindah ke kota, tetap tidak mengurangi produktifitas pertanian. Karena pertanian sudah dikelola secara industry yang efisien dari segi tenaga kerja. Infrastruktur pertanian diperluas pembangunannya. Termasuk revitalisasi desa menjadi desa industry agro.
Selama 25 tahun sejak tahun 1990, pertanian sudah berkembang pesat. Diversifikasi tanaman pangan dipromosikan dengan dukungan bibit unggul dari laboratorium riset nasional. Digitalisasi pasar dan supply chain lewat warehouse ecommerce market place diterapkan secara luas. Ekosistem pembiayaan semakin inklusif. Yang jelas bertani sudah tidak lagi sekedar survival tetapi untuk kaya. Situasi ini mendorong kaum muda terjun ke pertanian.
Sejak Xijinping berkuasa tahun 2013 sampai sekarang pertanian China sudah dikelola dengan sangat modern lewat smart farming. Bahkan banyak shadow BUMN China memperluas lahan pertanian sampai ke Afrika, Asai dan Amerika latin. Luasnya mencapai jutaan hektar. Mengakuisi pusat riset pertanian di Eropa. Mengirim team riset pertanian ke laboratorium ruang ankasa untuk melakukan riset gonom dan biotekhnologi. Ketahanan pangan berbasis ekologi mulai diterapkan sejak tahun 2020. Ini guna mensuksekan program pertanian hijau tahun 2030. Demikian katanya.
Saya terhennya. Apa hikmah dari cara China membangun sector pertanian? Pertama. China membangun secara bertahap dan berkelanjutan. Kalau salah ya diperbaiki. Kalau bagus ditingkatkan. Kedua, Mao sukses memastikan semua rakyat China tidak ada yang buta hurup dan berkembang lewat budaya gotong royong. Sehinga apapun program pemerintah bisa dimengerti oleh rakyat. Ketiga, distribusi lahan pertanian tidak bertumpu pada korporasi. Master plan pertanian tidak pernah diubah dan disiplin menerapkan red line lahan pertanian yang tidak boleh berubah fungsi dalam bentuk apapun.
Terakhir, keempat, dari awal pembangunan pertanian di design untuk terjadinya transformasi dari tradisional ke pertanian berbasis sains. Lembaga riset menjadi andalan China dalam berproduksi. Anggaran riset dari tahun ke tahun terus meningkat. Lembaga riset juga makin bertambah banyak dan luas cakupannya. Tentu sukses itu semua berkat reformasi pertanian yang menghapus rente lahan dan mengawal tata niaga yang menguntungkan rakyat. Maklum mereka republic Rakyat, bukan republic oligarki seperti Indonesia.
***
Usai makan makan malam, dia panggil manager restoran itu untuk berphoto bersama. “ Ini cucu saya. “ Katanya kepada saya. “ Kenalan sama om” katanya kepada cucunya yang segera shake hands. Saya terkejut.
Maklum, dia CEO BUMN yang asset nya diatas Rp. 6000 triliun. Dengan fasilitas melimpah, semua bisa dia dapatkan. Pastilah ada dorongan untuk tampil hedonism dan aktualisasi diri. Tetapi dia memilih menolak keinginan itu. Tetap hidup sederhana. Saat berkuasa, semua sumber daya ada padanya. Walau dia bisa lakukan apapun untuk pertahankan dan meningkatkan kekuasaan. Namun dia tetap utamakan moral dan etika. Memang rumit! Makanya tidak banyak orang sukses memimpin. Kebanyakan tergelincir dalam KKN.
Dua tahun lalu dia tamat dari universitas, katanya tentang cucunya. Kini dia sedang menyapa dunia realitas. Kalau karena itu penghasilan tidak berlebih, dia tetap akan baik baik saja. Mengapa? Yang dihadapinya adalah masalah diluar dirinya. Hanya masalah pekerjaan. Ia berada pada level orang awam yang sedang berproses. Dia tidak dibebani untuk mengalahkan dirinya sendiri. Kecuali berkompetisi lewat kompetensi mengalahkan pihak di luar dirinya. Bukan big deal ! Katanya.
Mengapa? Tanya saya berkerut kening. Karena dengan kekuasaanya tentu tidak sulit baginya untuk melontarkan karir cucunya ke puncak bergengsi. Namun dia lebih suka cucunya berproses jauh dari bayang bayang dirinya. Alasanya? Sebaiknya tentu saya tidak halangi dia berproses secara natural. Karena suatu saat nanti dia akan jadi pemimpin bagi orang banyak. Nah saat itu dia tidak lagi berkompetisi dengan pihak di luar dirinya, tetapi berkompetisi dengan dirinya sendiri. Itu baru big deal ! saya terhenyak mendengar alasannya.
Bukankah masalah di luar kita, bukan big deal. Katanya. Misal, mengeluh terasa lebih mudah daripada bertindak. Memilih comfort zone , menghindari tanggung jawab, dan membela diri , anti kritik. Sifat orang kebanyakan memang begtu. Bukan issue yang diperhitungkan. Artinya yang big deal itu adalah mengalahkan diri kita sendiri. Menjadi pemimpin bagi orang banyak dengan kekuasaan melimpah, bukanlah kehidupan yang mudah. Bukan kemewahan. Karena pemimpin yang sukses harus mau paling menderita dan paling kekurangan dalam materi dan waktu.
Pemimpin itu cermin dari caranya berpikir ( way of thinking ) yang memotivasi dan menginspirasi. Peka dalam merasakan ( feeling ). Punya rasa malu berbuat korup dan menolak kebenaran. Punya kemampuan memfungsikan semua potensi positip ( functioning ). Sebuah cara hidup ( the way of life ) dan cara menjadi ( way of being ) yang transformative. Memang tidak mudah. Artinya, tanpa kekayaan batin dan moral, dia tidak mungkin bisa sukses memimpin orang banyak. Malah menjadi sumber kerusakan bagi peradaban.

Tinggalkan komentar